![]() |
| Ilustrasi pembelajaran daring. IMAGE/tirto.id |
www.sinergispress.com - Akhir tahun 2019 dunia digemparkan dengan munculnya virus corona. Virus corona atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut covid-19. Virus corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, hingga kematian. Virus ini tergolong dalam virus jenis baru yang bisa menyerang manusia, seperti ibu hamil, bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, dan ibu menyusui. Gejala awal infeksi virus corona bisa berupa gejala flu; yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala tapi yang membedakan dengan gejala flu adalah pasien bisa mengalami sesak nafas (nafasnya terasa berat). Jika sudah mengalami gejala yang disebutkan di atas, maka ada baiknya untuk segera di periksa agar ditangani dengan cepat dan tepat.
Dikutip dari laman IDN Times, bahwa kasus di Indonesia pertama kali ditemukan pada dua warga Depok, Jawa Barat; awal Maret lalu. Data hingga Sabtu, 28 Maret 2020 jumlah warga yang dinyatakan positif terkena virus corona mencapai 1.155 dan 102 diantaranya meninggal dunia. Penyebaran ini terjadi sangat cepat karena banyak warga Indonesia yang tidak mengikuti imbauan untuk tetap di rumah. Penyebaran virus ini terjadi disebabkan oleh beberapa hal; salah satunya seperti transmisi dari cairan, cairan yang dimaksud adalah cairan tubuh yang keluar saat berbicara, batuk, dan bersin.
Virus corona selain membawa dampak buruk bagi kesehatan dan jumlah populasi manusia di berbagai belahan dunia, juga membawa dampak buruk di seluruh sektor kehidupan. Sejak virus ini mewabah, kegiatan ekonomi masyarakat di Indonesia terguncang akibat dari kebijakan pemerintah yang memberlakukan gerakan pembatasan sosial serta bekerja dan belajar dari rumah atau WFH (Work From Home). Bagi sebagian orang, kebijakan ini sangat memengaruhi ekonomi di kehidupannya. Contohnya untuk para driver ojol dan angkot, para pedagang kaki lima, pedagang pasar, dan orang-orang yang bekerja dengan upah harian. Bagi mereka para pekerja yang bergantung pada upah harian tentu kebijakan ini membuat pendapatan mereka menjadi menurun.
Selain itu, dalam bidang pendidikan pun terkena imbasnya akibat dari virus corona. Semenjak wabah ini meluas ke hampir seluruh wilayah Indonesia; khususnya kota-kota besar, seluruh kampus di Indonesia memberlakukan kegiatan belajar mengajar secara daring. Akibat dari ini, banyak mahasiswa yang mengeluh soal kegiatan belajar mengajar daring.
Tidak sedikit pula mahasiswa yang mengeluh mengenai beban tugas yang diberikan dosen pada mereka. Mereka merasa bahwa, semenjak belajar secara daring diberlakukan banyak dosen yang hanya memberikan tugas tanpa memberi materinya ataupun penjelasan terkait tugas yang diberikan, selain itu masalah lainnya seperti server yang maintanance atau lebih dikenal dengan server down. Mereka juga ingin kebijakan soal pembayaran UKT untuk ditangguhkan atau setidaknya bayar setengah harga dari harga normal. Karena selama semester ini mereka tidak menggunakan fasilitas kampus bahkan untuk biaya kuota pun mereka persiapkan sendiri. Maka dari itu, beberapa provider memberikan kuota gratis sebagai penunjang pembelajaran daring sebesar 30 GB. Namun, kuota tersebut di batas waktu yaitu hanya berlaku selama 30 hari setelah aktivasi. Selain itu, belum tentu semua daerah di Indonesia memiliki jaringan yang stabil untuk ketiga provider tersebut.
Jika kita telisik lebih dalam mengenai dampak virus corona dalam bidang pendidikan, sebenarnya tidak mahasiswa saja yang terkena imbasnya. Namun, seluruh orang yang bekerja dalam ranah pendidikan pun terkena imbasnya. Seperti dosen yang tetap berusaha mengajar, menyampaikan materi sembari memikirkan bagaimana caranya agar para mahasiswa mengerti tentang materi yang disampaikan. Selama pandemi ini belum berakhir, seluruh lapisan masyarakat di Indonesia sedang berada di posisi dimana berbagai kerugian harus ditelan bulat-bulat. Artinya, baik mahasiswa ataupun dosen dan seluruh orang-orang yang berkaitan di bidang pendidikan tidak sedang dalam posisi yang untung, diuntungkan, atau menguntungkan.
Namun, sikap mahasiswa yang cenderung memiliki tingkat ignoransi dan individualis yang hanya memikirkan dampak untuk dirinya sendiri, seperti perihal pemborosan kuota, tugas yang dirasa menumpuk, biaya kuliah yang mereka pikir tidak selaras dengan fasilitas yang didapat akibat dari corona. Membuat mereka berpikir menjadi pihak yang paling dirugikan. Padahal, sejatinya pandemi ini menjadi persoalan kita bersama dan bukan lagi sebatas siapa yang paling terkena imbasnya. Seharusnya, dalam masa pandemi ini kita harus menyelaraskan pikiran dan perlu melihat masalah ini dari sudut pandang yang lain. Terkadang masalah yang terlihat kompleks jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, ada sesuatu yang bisa kita temukan. Millennial menyebutnya sebuah hikmah.
Alih-alih mengeluhkan tentang kurang efektifnya pembelajaran daring, lebih baik para mahasiswa memanfaatkan momen ini sebagai peluang; misalkan membuat sebuah tulisan atau mengeksplor hobi mereka. Jika mereka mengeluhkan soal tugas yang menumpuk, memang itu risiko menjadi mahasiswa, lagipula kita dituntut untuk selalu bisa menangani suatu masalah di bawah tekanan.
Dari hal-hal yang sudah di bahas tadi, kita mengetahui bahwa begitu banyak pihak yang dirugikan akibat pandemi ini. Sudah sepatutnya kita memiliki kesadaran dan tingkat waspada yang tinggi. Kita tahu betul, untuk mengurangi penyebaran virus ini harus dilakukan pembatasan sosial. Bahkan acara-acara tahunan yang mengundang banyak massa pun harus dibatalkan agar penyebaran ini tidak semakin melebar dan meluas, kita harus mendisiplinkan diri serta menaati kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial. Semakin kita disiplin, semakin cepat pula pandemi ini berakhir. Selain melakukan gerakan pembatasan sosial, kita juga perlu menerapkan pola hidup bersih sehat. Seperti; mencuci tangan dengan sabun setelah memegang apapun, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika bepergian, tidak memegang mata, mulut, dan hidung.
Maka dari itu, penting bagi kita mendisiplinkan diri untuk tetap di rumah dan
melakukan gerakan pembatasan sosial, agar kegiatan ekonomi, kegiatan sosial
masyarakat, kegiatan pendidikan, kegiatan beribadah, bisa berjalan seperti
sedia kala. (lie/arf)
Penulis: Lieken Febrina Tri Andoro
Editor: Arfan Muhammad Nugraha

0 Komentar