![]() |
| Ilustrasi stay at home. IMAGE/Pixabay |
www.sinergispress.com – Masyarakat dunia telah dikejutkan dengan kemunculan virus baru yang bermula dari kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Virus ini dinamakan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) berpendapat bahwa Coronavirus merupakan suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis Coronavirus dapat menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru inilah yang menyebabkan penyakit COVID-19.
Kemunculan coronavirus yang terbilang mendadak, menyebabkan banyak spekulasi mengenai penyebab adanya penyakit ini. Salah satunya menyatakan bahwa virus yang muncul di kota Wuhan tahun lalu adalah hasil rekayasa genetik untuk senjata biologi. Namun, spekulasi tersebut dapat dipatahkan oleh hasil penelitian seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research dan seorang penulis dari jurnal Kristian Andersen. Menurut keduanya, berdasarkan analisis data sekuens genom publik dari COVID-19 dan virus terkait, tidak menemukan bukti bahwa virus tersebut dibuat di laboratorium atau direkayasa.
COVID-19 dapat ditularkan dari manusia ke manusia melalui percikan-percikan dari hidung maupun mulut yang keluar saat manusia yang terjangkit virus ini batuk atau bersin. Penyebaran COVID-19 terbilang sangat cepat dan luas, tidak sampai satu bulan, virus ini telah menyebar ke berbagai negara di penjuru dunia. Akhirnya pada 12 Maret 2020 WHO mengumumkan bahwa COVID-19 merupakan sebuah pandemik.
Karena tingkat kesadaran masyarakat yang rendah dan sikap acuh tak acuh terhadap pandemik, menjadi faktor peningkatan kasus dan peningkatan kematian COVID-19. Selain itu, respon lambat dari pemerintah dalam menangani pandemik juga menjadi faktor lainnya dari penyebaran virus. Dengan banyaknya kasus yang terjadi, masyarakat mesti sadar akan bahayanya dari virus COVID-19, serta pemerintah mesti fokus dalam menangani pandemik ini.
Di Indonesia, baru-baru ini pemerintah telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tujuan PSBB untuk membatasi kegiatan tertentu dan pergerakan masyarakat Indonesia dalam menekan penyebaran virus. PSBB dilaksanakan selama 2 pekan dan akan dievaluasi ke depannya. Masyarakat diminta agar tetap di rumah saja dan tidak perlu keluar rumah jika tidak memiliki kepentingan yang mendesak.
Selain itu, pemerintah Indonesia maupun dunia menerapkan social distancing atau pembatasan sosial dengan menjaga jarak untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran virus ini. Penerapan social distancing dilakukan di berbagai tempat, baik itu tempat makan, transportasi umum, bandara, stasiun, dan tempat lainnya yang mengharuskan masyarakat untuk mengantri. Masyarakat diminta agar menjaga jarak minimal satu meter agar tidak berdekatan dengan masyarakat lainnya.
Tetapi karena pembatasan sosial yang dianggap kurang efektif dalam menghambat penyebaran virus, menyebabkan pemberlakukan Work From Home (WFH) yang digembor-gemborkan oleh pemerintah dari berbagai negara, seperti Indonesia. WFH merupakan istilah lain dari kerja dari rumah di mana kebijakan ini berlaku untuk seluruh pelajar atau pun pekerja di seluruh wilayah Indonesia, kecuali petugas medis yang harus tetap bekerja guna menangani pasien yang terjangkit COVID-19.
Kita sudah sepatutnya untuk waspada dan tidak menyepelekan dampak dari pandemik COVID-19 agar penyebaran virus ini dapat dihentikan dengan cepat dan tidak meluas kepada yang belum terjangkit virus ini. Selain itu, sudah seharusnya kita sebagai masyarakat, mengikuti segala aturan yang diberlakukan dalam upaya memutus mata rantai pandemik ini dengan tetap menjaga kebersihan dan selalu menjaga jarak dengan masyarakat lainnya.
Tidak hanya itu, dukungan dari masyarakat ke masyarakat lainnya juga sangat
diperlukan, seperti pembagian masker gratis, handsanitizer, dan bahkan
dukungan agar tetap di rumah saja dapat meringankan beban tenaga medis, karena
dengan tetap di rumah penyebaran virus ini dapat diminimalisasikan.
(ayu/arf)
Penulis: Ayu Margaretha
Editor: Arfan Muhammad Nugraha

0 Komentar