![]() |
| Cover Kupu-Kupu Malam karya Achmad Munif |
www.sinergispress.com - Mengapa saya memilih novel ini menjadi sebuah bahan untuk didiskusikan? Pertama, buku ini mengangkat banyak kisah-kisah yang menurut saya sangat erat dengan kebiasaan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Kedua, buku ini berisi isu-isu feminisme, hampir sama seperti diskusi kemarin. Perbedaannya novel ini lebih condong kepada dunia prostitusi di wilayah Pulau Jawa (Jawa Timur, Yogyakarta, Parangkritis).
Penulis menjelaskan tentang adanya sebuah kegiatan penjualan manusia (kegiatan mucikari), penjualan gadis-gadis dari wilayah pedesaan yang disebabkan oleh perekonomian yang sulit. Karena kesulitan ekonomi tersebut, mereka terbuai, terlena embel-embel cari kerja dan kehidupan yang layak, padahal kenyatannya para gadis desa ini dimasukkan ke dalam dunia prostitusi yang dipegang oleh Mami yang memiliki pandangan buruk terhadap laki-laki dan perempuan.
Sebelum membahas lebih dalam buku ini, adakalanya kita mengenal terlebih dahulu penulis dari buku ini, Achmad Munif. Kelahiran Jawa Timur dan dikenal sebagai penulis produktif. Dia merupakan lulusan dari Fakultas Filsafat UGM, berkecimpung di dunia jurnalistik selama 20 tahun sebagai wartawan Kedaulatan Rakyat. Novel Kupu-Kupu Malam yang kita bahas sekarang ini berkaitan dengan kehidupan di tempat kelahirannya.
Dari novel ini dapat ditarik beberapa hal yang bisa kita jadikan sebagai pembahasan, yaitu:
(1) Apakah kejahatan yang disenangi bisa dikatakan sebagai pelecehan?
(2) Apakah perawan atau tidaknya seorang perempuan mencerminkan kesusilaannya?
(3) Apakah sebuah pengalaman kelam dari masa lalu dapat mempengaruhi cara pandang seseorang?
(4) Penipuan.
(5) Perampasan kebebasan terhadap perempuan desa.
(6) Kegiatan prostitusi di wilayah Jawa.
Teman-teman pasti pernah dengar mengenai pernikahan dini, perjodohan, dan pelacur. Semua kata tersebut melibatkan perampasan kebebasan terhadap perempuan dan keterpaksaan dalam melakukan pekerjaan sebagai pelacur. Terdapat pandangan yang menganggap perempuan itu lemah dan mudah dirayu, apalagi perempuan dari desa. Dalam novel ini ada sisi yang menarik, bahwa semua manusia pernah melakukan kesalahan, jangan merasa paling suci dan jangan merasa paling hina. Jangan merasa paling benar dan jangan merasa paling salah. Yang penting manusia itu mau memperbaiki kesalahannya.
Cerita dalam novel ini diawali dengan kedatangan dokter praktik bernama Dokter Pramono di Desa Kedungdoro, ia disambut baik oleh masyarakat, dalam setiap acara yang diadakan oleh warga, Dokter Pram selalu diundang. Masyarakat di desa tersebut masih mengadakan ludruk atau acara tayub. Dokter Pram kurang suka dengan tayuban, karena ia akan dipaksa ngibing kalau ia ketiban sampur (selendang yang dipakai penari). Di bagian ini, laki-laki nakal sering mencolek anggota tubuh, dan bagian paling nakal memasukkan uang ke area dada penari yang merupakan simbol kegairahan, para penari dengan senang hati menerimanya.
Kedatangan Dokter Pram di Desa Kedungdoro membuat setiap orang tua yang memiliki anak gadis menginginkannya untuk menjadi menantu mereka, seperti Gus Jabar yang memiliki anak gadis bernama Darmini, Pak Lurah yang memiliki anak cantik janda bernama Ning Sriyati, dan Mbok Jah yang memiliki cucu yang masih gadis SMU keturunan Australia bernama Sumi.
Terbongkarnya kegiatan dunia prostitusi yang melibatkan warga desa diawali oleh kedatangan Agustin atau Sarti, penyanyi klub malam bayaran yang sedang dalam pelarian dari Gandon, orang yang selalu memaksanya agar tetap menjadi sapi perahannya. Gandon adalah kaki tangan dari Nurima (Mami) dan masih merupakan warga Desa Kedungdoro, yang setiap kepulangannya selalu menciptakan kegaduhan.
Gandon dipaksa untuk mengajak kembali Agustin untuk bekerja menjadi pelacur lagi atau mencari penggantinya atas suruhan Mami. Mami merupakan seorang germo kelas tinggi, dia wanita cantik yang memiliki tekad untuk menghancurkan laki-laki dan perempuan dalam setiap kesempatan. Menipunya dengan mulut manis dan menenggelamkan mereka pada dunia prostitusi. Ia merayu laki-laki dan memeras uangnya sampai tandas. Karena menurut Mami, uang adalah segalanya. Mami melakukan semua itu dilatarbelakangi oleh rasa dendam. Dendam yang muncul karena pengkhianatan atas kekasihnya dan perlakukan ayah tirinya yang selalu mencoba memperkosanya dan mengkhianati ibunya pula.
Selain Agustin, banyak gadis desa yang terampas kebebasannya. Salah satunya Ning Sriyati yang mengalami trauma ketika ia ke Malang, di sana ia bertemu dengan mantan suaminya. Mantan suaminya mengajaknya rujuk, namun Sri menolaknya dan menyebabkan ia hampir mendapat pelecehan.
Lalu ada Rum, wanita yang sudah menjanda yang berasal dari Indramayu, tinggal di pesisir pantai Palangkritis, ia dijual oleh suaminya sendiri dan menjadi pelacur dengan bayaran hanya cukup untuk makan.
Itulah beberapa hasil pemahaman saya setelah saya membaca novel karya Acmad Munif yang kental dengan kegiatan masyarakatnya. Perlu diketahui pula sebuah karya sastra mampu memberikan wawasan luas terhadap isu-isu, baik yang sudah berlalu maupun apa yang sedang terjadi.
Penulis: Gita Valentina
Editor: Tri Asep Tumbara

0 Komentar