(sumber: limone.com)

 

www.sinergispress.com – Apakah kamu pernah berada di dalam kubangan kesedihan? Dan apa kamu pernah menceritakan kesedihan itu kepada orang lain? yang terkadang mereka tidak memberikan respon yang menenangkan atau malah menghakimi, bahkan membandingkannya dengan masalahnya sendiri.

 

Toxic positivity yaitu keyakinan yang tidak wajar bahwa kita harus berpikir positif dalam situasi apapun (satupersen.net). Toxic positivity ini sering kita dengar ketika kita bercerita soal kesedihan atau masalah yang sedang kita alami, ada yang bilang “udah bersyukur aja, masih banyak yang lebih kurang dari kamu”, “kamu kan masih punya sumber kebahagiaan yang lain”, “dibawa positif aja”, dan berbagai balasan yang lainnya. Seakan-akan kesedihan adalah hal yang tabu dan sesuatu yang harus kita hindarkan.

 

Berpikir positif boleh, tapi jika berlebihan juga tidak baik. Kesedihan itu wajar dialami oleh diri kita, wajar kalau kita sedih, wajar kalau kita butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang tergores di hati. Kesedihan itu bagian dari diri kita. Manusia itu bukan hanya soal kesenangan, bahkan tidak ada kesenangan atau kebahagiaan yang abadi. Semuanya haruslah seimbang.

 

Toxic positivity ini juga dapat berdampak pada kesehatan mental kita. Kita jadi berpikir bahwa kesedihan bukanlah hal yang wajar untuk kita alami, kesedihan bukanlah hal yang wajar untuk kita tunjukkan ke orang lain, dimana kita jadi menekan emosi yang kita rasakan. Tindakan menekan emosi yang sedang kita rasakan ini bukan membuat emosi ini hilang namun hanya akan membuat emosinya tambah besar, yang sewaktu-waktu bisa meledak bagai bom waktu.

 

Cara mengatasinya yaitu dengan kita mengekspresikan apa yang kita rasakan, bisa dengan bercerita dengan orang lain, teman atau keluarga, menulis diary, atau media lain yang dapat menyalurkan kesedihan kita. Kita juga harus ingat, ketika kita bercerita dengan orang lain terkait kesedihan yang sedang kita rasakan, ada beberapa orang yang memang tidak bisa mengerti kita, jadi ibarat kita mencari barang kesukaan diantara banyaknya barang bagus, jangan pernah menyerah untuk menemukan orang yang cocok untuk dijadikan teman berbagi. And last, it’s okay to not be okay.

 

“there’s nothing wrong with looking at the bright side. However, difficult emotions are legitimate, too, and have to be acknowledged when they happen.”

-simplyhappy.co

 

Penulis: Alya Wijayani

Editor: Luqyana Pazri Alamsyah