Cover Buku Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Sumber: Google Books


Judul Buku: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: Mei 2014

Tebal: 243 Halaman


www.sinergispress.com – Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah salah satu novel yang ditulis oleh seorang sastrawan Eka Kurniawan yang mendapatkan respons dan apresiasi dari banyak pembacanya. Eka (begitu sapaannya) telah menulis banyak karya yang dibukukan dan mendapat perhatian dari pembacanya dalam menikmati karya Eka.

Novel ini menceritakan seorang pria bernama Ajo Kawir (tokoh utama), seorang pemuda yang menjalani pencarian tentang makna kehidupan, pemberani dan kadang sering bermasalah di kampungnya. Ajo Kawir bersahabat baik dengan Si Tokek. Cerita bermula saat si Tokek mengajak Ajok Kawir untuk pergi ke rumah Si Rona Merah, seorang janda dengan gangguan jiwa yang ditinggal mati oleh suaminya. Ajo Kawir dan si Tokek mengintip Rona Merah melalui lubang kecil rumahnya. Mereka dikejutkan dengan datangnya dua orang laki-laki berseragam polisi yang mengunjungi Rona Merah. Kedua polisi tersebut memperkosa Rona Merah secara bergantian. Rona Merah yang hanya diam tidak berkutik, seorang polisi yang biadab yang memenuhi hasrat biologisnya kepada Rona Merah yang gangguan jiwa. Dari kejadi ini pantaskah mereka disebut seorang polisi? atas tindakan yang dilakukannya dengan memperkosa seorang wanita yang memiliki gangguan jiwa. Lanjutnya dari hal yang dilakukan, kesialan pun terjadi, dimana Ajo Kawir dan si Tokek ketahuan atas tindakannya. Tetapi, si Tokek berhasil melarikan diri, sedangkan Ajo Kawir tertinggal dan tertangkap oleh kedua polisi tersebut.

Setelah itu, Ajo Kawir dipaksa untuk memperkosa Rona Merah oleh kedua polisi tersebut, namun terdapat permasalahan yang terjadi, dimana alat kelamin Ajo Kawir tidak mau berdiri dan menciut dalam diam. Semenjak kejadian itu Ajo Kawir meratapi hidupnya yang penuh dengan pergolakan batin karena alat kelaminnya tidak bisa berdiri, si Tokek sahabatnya merasa kasihan pada Ajo Kawir. Si Tokek membantu Ajo Kawir untuk membangunkan alat kelaminnya, berbagai cara pun telah dilakukan namun tetap saja alat kelamin Ajo Kawir tidak mau bangun.

Dalam perjalanan kehidupan yang dilalui oleh Ajo Kawir banyak hal yang terjadi, Ia tak putus asa sebagai seorang laki-laki, sebagaimana layaknya manusia, Ia mencoba memenuhi ambisi lahiriah akan nafsu seksualnya. Sehingga, Ajo Kawir diceritakan menjalin hubungan dengan seorang wanita yang selalu diperkosa oleh seorang renternir kampung. Renternir yang merasa memiliki kuasa karena ia memberikan tempat tinggal untuk wanita itu. Wanita itu terpaksa melakukannya karena kalau tidak ia akan diusir dan tak tahu akan tinggal dimana dan makan apa. Seorang renternir yang mengandalkan senjatanya untuk memperlakukan wanita itu seenaknya. Ajo Kawir marah, tidak terima dan ingin memberi pelajaran si renternir. Wanita itu hamil dan memutuskan untuk aborsi karena renternir itu tidak mau bertanggung jawab. Karena wanita itu memiliki hak atas tubuh dan mentalnya dalam melakukan aborsi dan tidak melanjutkan kehamilannya untuk mengurus anak, asalakan itu astas kehendak dirinya sendiri.

Dari dinamika perkelahian antara Iteung si penjaga reternir dan Ajo Kawir pada akhirnya menimbulkan benih-benih cinta pada keduanya. Ajo Kawir pun jatuh cinta pada Iteung, mereka saling jatuh cinta dan menikah. Iteung tidak mempersalahkan dan tidak keberatan, dimana alat kelamin Ajo kawir yang tidak bisa berdiri. Suatu hari Iteung mengatakan bahwa dirinya hamil.

Ajo Kawir kecewa dan tidak sanggup untuk mengahadapi kenyataan bahwa telah dikhianati oleh Iteung.

Alur cerita sebelumnya (cerita mundur) saat Iteung pernah dilecehkan oleh seorang guru pada saat ia sekolah dan berhubungan badan dengan Budi Baik seorang pria teman seperguruan silatnya. Kenyataannya Cinta dan Kasih sayang saja tidak cukup untuk menjalin hubungan dalam pernikahan. Kebutuhan seksual juga penting dalam sebuah hubungan pernikahan. Iteung merindukan dan menginginkan hubungan badan yang memerlukan media fisik, sehingga Iteung melakukannya lagi dengan Budi Baik yang bisa memenuhi keinginannyaa. Sementara Ajo Kawir tidak bisa memenuhi keinginan Iteung.

Atas kejadian tersebut, Ajo Kawir pergi meninggalkan Iteung untuk menenangkan diri. Saat diperjalanan ia bertemu dengan Jelita seorang wanita yang jauh dikatakan Jelita seperti namanya. Singkat cerita Ajo Kawir mimpi basah bersama Jelita dan alat kelamin Ajo Kawir berhasil berdiri. Ajo kawir bingung apa yang terjadi mengapa Jelita, ia tidak pernah mencintainya sama sekali suka saja tidak pernah. Dari situlah Ajo Kawir membuktikan bahwa alat kelaminnya telah berdiri saat berhubungan badan dengan iteung di toilet saat perjalanan menggunakan truk.

Ajo Kawir senang karena alat kelaminnya sudah bisa bediri dan ia sangat merindukan iteung, ia akan menerima anak itu walau bukan anak kandunganya sendiri. Setelah pulang kampung Ajo Kawir dikejutkan Iteung yang baru saja bebas dari penjara karena telah membunuh ayah dari anak kandungnya lalu Iteung sekali lagi membunuh dua orang polisi yang memperkosa Rona Merah. Iteung dipenjara lagi. Setelah sekian lama Ajo Kawir menunggu alat kelaminnya berdiri, kali ini alat kelaminnya yang harus menunggu Iteung bebas dari penjara. Ada penyampaian di akhir tulisan bahwa “Aku akan bersabar menunggunya, seperti kau bersabar menungguku bangun, Tuan. Bolehkah sementara menunggu, aku tidur lagi?”

Cerita di dalam buku ini sesuai dengan kenyataan hidup, dimana kekerasan seksual terjadi bukan karena si korban yang menjadi pemicu, bukan dari si korban karena cara berpakaiannya terbuka, dan lain-lain. Tetapi pelakulah yang harusnya disalahkan. Yang tidak memiliki hati nurani, adab, dan etika. Yang selalu menggunakan senjata kuasa untuk memperlakukan perempuan seenaknya sesuai keinginan dirinya.

Yang utama dalam cerita ini tentu kenyataan bahwa cinta dan kasih sayang saja tidak cukup untuk menjalani hubungan pernikahan. Kebutuhan seksual merupakan salah satu kebutuhan utama dalam pernikahan. Namun ujian itu selalu ada dan siapa saja yang akan sabar menunggu keajaiban itu terjadi.

Alur cerita dalam buku ini memang maju mundur, tetapi memberikan alur cerita yang tidak membosankan, dimana gaya bahasa yang digunakan penulis dalam karyanya berhasil merobohkan sekat-sekat sebuah karya dengan norma yang membatasi gerak imajinasi yang menghambat pada keterbatasan penyampian gagasan, tetapi dalam penyampian bahasa yang digunakan menyiratkan atau menggambarkan peristiwa dengan sangat berani dan detail. Dari hal itu, Novel ini memang diperuntukan untuk pembaca yang sudah berusia 21 tahun ke atas.

Penulis: Fera Azmii Aqil A’isy

Editor: Maryati