Cover Buku Good Boy Doing Feminism

(Sumber : goodreads) 

Laki-laki sudah saatnya tidak hanya dilihat sebagai masalah, tetapi harus menjadi bagian dari pemecahan persoalan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia - Deklarasi CANTIK 


www.sinergispress.com - Good Boys Doing Feminism : Maskulinitas dan Masa Depan Laki-Laki Baru adalah buku yang dituliskan oleh Nur Hasyim, beliau adalah aktivis feminis, ia adalah salah satu pendiri Aliansi Laki-Laki Baru, sebuah jaringan laki-laki pro feminis di Indonesia.

Ketika mendengar perihal Patriarki, pasti kita sudah tahu bahwa patriarki merupakan sistem ketidakadilan gender yang mana menempatkan perempuan dibawah laki-laki, namun apakah Patriarki hanya merugikan perempuan saja? Tentu saja tidak.

Nur Hasyim menjelaskan di buku ini perihal patriarki yang tak hanya merugikan perempuan, namun laki-laki juga dirugikan oleh patriarki tidak memberikan kebebasan kepada laki-laki untuk menjadi diri sendiri. Patriarki menghalangi laki-laki untuk menunjukkan ekspresi manusiawi mereka. Beliau menjelaskan bahwa patriarki menjerumuskan laki laki dalam kehidupan kompetetif, terus-menerus menekan mereka hanya untuk menunjukkan bahwa mereka laki-laki.

Tak hanya itu, Nur Hasyim membenarkan bahwa laki-laki itu mendapat dan menikmati privilese dari patriarki itu sendiri, namun secara tidak langsung patriarki mendehumanisasikan laki-laki, meletakkan mereka ke dalam kotak besar "laki-laki ideal" yang memaksa mereka untuk bertindak, berperilaku, dan berpenampilan tertentu. Kesadaran akan hal ini menggerakan sebagian laki-laki untuk mengambil jalan feminisme: menjadi laki-laki pro feminis.

Buku ini menjelaskan bahwa gerakan perempuan harus diakui, karena gerakan perempuan di Indonesia memiliki sejarah yang bermula dari abad ke-19 ditandai dengan gerakan yang dilakukan oleh Cut Nyak Dhien hingga saat ini banyak aktivis perempuan yang masih memperjuangkan hak-hak perempuan diluar sana. Tetapi, apakah laki-laki terlibat dalam gerakan pro perempuan ini? Tentu saja, iya. Gerakan laki-laki pro perempuan di Indonesia pertama kali muncul pada tahun 2000 dengan kelompok bernama CANTIK (cowok-cowok anti kekerasan), kampanye Laki-Laki Anti Kekerasan di Yogyakarta, lalu muncul Miilist yang merupakan aliansi berbasis internet yang mewadahi laki-laki pro perempuan, ada juga Generasi Laki Laki Baru yang muncul di Bandung pada tahun 2009, dan ada juga Aliansi Laki-Laki Baru. Namun, kontroversi akan laki-laki adalah akar persoalan ketidakadilan bagi perempuan, bagaimana mungkin mereka terlibat?

Ada tiga respon aktivis feminis yang dijelaskan oleh Nur Hasyim, mereka menyetujui akan gerakan laki-laki pro perempuan, kelompok aktivis pertama dan kedua, mereka setuju bahwa gerakan laki-laki pro perempuan adalah keharusan, alasannya yaitu persoalan ketidakadilan perempuan adalah persoalan relasi antara laki-laki dan perempuan, persoalan ketidakadilan dalam masyarakat adalah persoalan sistem. Laki-laki merupakan korban dari sebuah sistem yang tidak adil, berbeda dengan perempuan yang tertindas, laki-laki dikonstruksi untuk menjadi penindas, sistem yang tidak adil ini mendehumanisasikan baik itu laki-laki maupun perempuan. Berbeda dengan kelompok pertama dan kedua, kelompok ketiga disini tidak menyetujui gerakan laki-laki pro perempuan, mereka merupakan kelompok yang dipengaruhi pemikiran feminis radikal, bagi mereka, untuk mengakhiri ketidakadilan bagi perempuan hanya dapat diwujudkan dengan memutus segala bentuk hubungan dengan laki-laki.

Tak hanya patriarki yang dibahas, maskulinitas-pun dibahas di buku ini, seorang feminis dari India, Kamla Bashin mendefinisikan maskulinitas sebagai definisi sosial yang diberikan masyarakat terhadap laki-laki. Bagi Bashin, maskulinitas mengarahkan laki-laki untuk berperilaku, berpakaian dan berpenampilan, serta menetapkan sikap dan kualitas yang harus dimiliki. Tak beda jauh dari patriarki, maskulinitas-pun mendehumanisasi dan merugikan laki-laki sehingga membuat laki-laki tidak bisa menjadi diri sendiri, karena baik itu patriarki maupun maskulinitas secara tidak langsung, sistem yang dibuat oleh masyarakat ini telah menanamkan sebuah pikiran terhadap laki-laki yang mana membuat laki-laki lebih superior daripada perempuan, menjadikan dirinya lebih hebat dari perempuan, menjadikan dirinya sebagai penindas tanpa mereka sadari.

Buku ini sangat layak dibaca untuk laki-laki yang ingin belajar feminisme, tetapi perempuan pun bisa membacanya juga, dalam segi bahasa pun tidak terlalu berat, buku ini menyajikan sesuatu yang sangat ekslusif, kenapa bisa begitu? Karena dengan membaca buku ini, laki-laki dapat menyadari bahwa diri mereka masih terikat oleh sistem-sistem yang dibuat oleh masyarakat, oleh karena itu pembebasan dalam diri laki-laki juga diperlukan, mereka perlu melawan segala bentuk sistem yang dibuat oleh masyarakat, menuju jalan kebebasan, dan menjadi laki-laki yang mendukung gerakan pro perempuan.

 

Penulis : Aldi Pramudiya

Editor : Luqyana Pazri Alamsyah