Cover Novel Laut Bercerita karya Lelia S. Chudori

 

Judul Buku : Laut Bercerita

Penulis : Leila S. Chudori

Penerbit : (KPG) Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun terbit : Oktober 2017

Tebal : 379 Halaman

 

          www.sinergispress.com - Novel Laut Bercerita adalah salah satu novel yang ditulis oleh seorang sastrawan Leila S Chudori. Selain sebagai penulis novel, ia juga bekerja sebagai wartawan Tempo. Novel ini mengangkat tema kekeluargaan, percintaan, rasa kehilangan, dan persahabatan. Berlatar waktu di tahun 90-an membuat para pembaca merasakan hidup pada peralihan era pemerintahan, orde baru menuju era reformasi. Penulis menegaskan, bahwa novel ini bersifat fiktif. Namun penulis melakukan riset dan wawancara kepada para korban kekejaman orde baru yang berhasil kembali dari peristiwa penculikan aktivis mahasiswa. Hal itu dilakukan untuk menyelidiki lebih dalam terkait karakter dari tokoh-tokoh, tempat kejadian, serta peristiwa yang sudah berlalu.

            Novel ini menceritakan tentang sekelompok aktivis mahasiswa Universitas Gajah Mada yang diculik oleh sekelompok orang tidak dikenal. Dalam novel ini tokoh yang diceritakan bernama Biru Laut, ia tertarik dengan gerakan aktivis ini saat awal pertemuannya dengan Kasih Kinanti di kios Mas Yunus. Disanalah kawan-kawan sesama pers mahasiswa diam-diam menggandakan beberapa bab novel Anak semua bangsa dan buku terlarang lainnya pada rezim orde baru. Karena peristiwa penangkapan para aktivis masih saja menggelayuti Yogyakarta, membawa buku karya Pramoedya Ananta Toer sama saja dengan menenteng bom karena akan dianggap sebagai pengkhianat bangsa.

            “Semakin aku tumbuh dan semakin melahap banyak bacaan perlahan aku menyimpulkan bahwa ada dua hal yang selalu menghantui orang miskin di Indonesia: kemiskinan dan kematian.”

            Banyak peristiwa yang dilakukan Laut dan kawan-kawannya, sepanjang tahun 1991-1998. mengapa tahun-tahun itu menjadi sebuah titik yang paling betul bagi pemerintah pada saat itu? Seperti peristiwa Blangguan, adalah peristiwa pemberontakan membela petani jagung yang lahan dan hak-nya dirampas pemerintah. Hingga peristiwa penculikan yang membuat para aktivis mahasiswa tersebut disiksa habis-habisan.

            Cerita dalam novel ini berlanjut dengan sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut. Ia mencari sang kakak dan kawan-kawannya yang dihilangkan. Ia bersama keluarga korban dari para aktivis yang diculik mencoba mencari keadilan dan mendirikan Komisi Orang Hilang. Duka kehilangan membuat keluarga yang ditinggalkan hidup dalam penyangkalan.

            Cerita dalam novel ini sesuai dengan peristiwa yang terjadi pada saat masa orde baru, dimana pada saat itu, Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang otoriter. Para petinggi banyak yang melakukan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Pers dikuasai oleh pemerintah, rakyat benar-benar harus tunduk terhadap pemerintah, yang paling penting para aktivis di bungkam dan disiksa tanpa melalui peradilan.

            Alur cerita dalam novel ini menggunakan alur maju mundur, tetapi memberikan alur yang mudah dipahami dan tidak membosankan. Gaya bahasa yang di gunakan penulis mudah dipahami sehingga tidak membatasi gerak imajinasi dalam penyampaian gagasan. Dan novel ini memang diperuntukan untuk pembaca yang sudah berusia 18 tahun keatas.

 

Penulis: Syifa Nurfadillah

Editor: Lulu Fitriani Fadillah