Sampul Novel Ronggeng Dukuh Paruk
Judul : Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis :
Ahmad Tohari
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 406 halaman
Tahun terbit : Febuari 2003
www.sinergispress.com – Saya memilih buku
"Ronggeng Dukuh Paruk" karena di dalam buku ini terdapat
banyak nilai kehidupan yang dapat
memberikan manfaat. Pertama kali saya
membaca buku tersebut, sangat sulit untuk dimengerti. Buku ini
menceritakan kehidupan zaman dulu yang masih berpegang teguh terhadap adat
istiadat. Judul "Ronggeng Dukuh
Paruk" diambil penulis karena
suatu desa yang dinamakan desa Dukuh
Paruk dan desa tersebut mempunyai
ronggeng. Sebab, sudah turun-temurun memiliki ronggeng,
tanpa ronggeng pedukuhan tersebut terasa
kehilangan jati diri.
Pedukuhan tersebut merupakan pedukuhan
terpencil, termiskin dan masyarakatnya menderita buta huruf. Awalnya pedukuhan tersebut tidak mempunyai ronggeng
lagi setelah belasan tahun, tetapi muncul
seorang tokoh utama bernama Srintil. Srintil
merupakan cucu dari Sakarya dan Nyi Sakarya. Srintil seorang perawan kecil yang
memiliki keinginan untuk menjadi seorang ronggeng.
Srintil mempunyai perilaku yang sangat centil, Srintil juga perawan tercantik
di pedukuhannya.
Suatu ketika Srintil sedang bersama
teman-temannya Rasus, Darsun dan Warta mereka menggoda Srintil. Srintil pun
mengajak mereka untuk mengikuti tariannya, tarian srintil sangat bagus sehingga
mengeluarkan mimik penagih birahi yang selalu ditampilkan oleh seorang
ronggeng. Mereka semua tidak
percaya jika Srintil bisa menari sebab tidak pernah ada
seorang pun yang mengajarkan Srintil
menari. Di pedukuhan
tersebut mereka mempunyai
kepercayaan kuat bahwa seorang
ronggeng sejati bukan hasil dari pengajaran. Bagaimanapun diajari, seorang
perawan tak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah merasuki
tubuhnya. Indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan.
Setelah selesai menari Srintil tampak lelah, tetapi ketiga temannya menuntut Srintil
menari lagi di hadapan
mereka. Warta meminta berkata pada srintil bahwasanya mereka bertiga akan
bermain lagi, jika Srintil memberi mereka upah. Akhirnya srintil menyetujui dan
upah yang dimaksud adalah upah mencium pipi.
Konon moyang Dukuh Paruk adalah Ki
Secamenggala. Dukuh Paruk sangat memuja Ki Secamenggala. Dukuh Paruk juga saat itu mempunyai dukun ronggeng,
bernama Katareja dan Nyi
Katareja. Sakarya menceritakan kepada Katareja bahwasanya cucunya telah
kemasukan Indang
ronggeng lalu akhirnya Srintil diserahkan kepada Katareja dan akhirnya Srintil
diangkat menjadi ronggeng. Akan tetapi, Katareja kebingungan untuk mendapatkan
orang sebagai penabuh gendang, dahulu
ada malapetaka di pedukuhan tersebut yang mengakibatkan penabuh
gendang meninggal. Katareja harus mencari lagi orang untuk menjadi penabuh
gendang. Katareja menemukan penabuh calung bernama Sakum. Sakum merupakan
laki-laki dengan sepasang mata keropos, tetapi memiliki keahlian istimewa dalam
memukul calung besar meskipun dengan keadaan matanya yang buta.
Panggelaran ronggeng kembali dibuka di
pedukuhan pada malam hari. Ketika Srintil hendak menjadi ronggeng ia harus
melewati beberapa tahap, salah satunya ialah bukak-klambu. Bukak-klambu
ialah ritual pelepasan keperawanan bagi
seorang ronggeng. Pada saat itu Srintil dihargai
dengan satu keping emas, tetapi karena kelicikan suami-istri Kartareja akhirnya
Srintil mendapatkan satu keping emas, 2 logam, dan satu sapi. Padahal di balik itu semua, mereka
justru tertipu sebab hanya Srintil dan Rasus yang tahu kejadian yang terjadi di
belakang rumah. Rasus sebenarnya
yang merasakan pertama kali
keperawanan Srintil. Hal tersebut bukan kemauan Rasus sendiri, melainkan
kemauan Srintil yang terus-menerus
memaksa Rasus. Tak hanya satu laki-laki yang melakukan malam bukak- klambu dengan Srintil. Setelah berbagai upacara adat dan malam bukak-klambu selesai dilakukan, maka
Srintil sudah dinobatkan menjadi seorang ronggeng yang sah. Namun, setelah itu
Rasus menghilang dari Dukuh Paruk meninggalkan neneknya seorang diri dan
bekerja di pasar Dawulan. Rasus bertemu dengan sersan Slamet dan kopral Pujo, akhirnya
Rasus bekerja untuk melayani tentara,
hingga suatu hari Rasus diminta untuk ikut bertugas karena perampok semakin
merajalela.
Masa
remaja Srintil dilalui menjadi ronggeng dan melayani para lelaki petualang.
Dalam adat istiadat Dukuh
Paruk seorang ronggeng
dilarang menikah kerena menikah adalah akhir dari ronggeng. Ia tidak akan laku
jika menikah. Keadaan itulah yang mengecam hubungan Srintil dan Rasus.
Masyarakat menganggap jika Srintil menikah maka ia akan berhenti menjadi
Ronggeng dan itu berarti Dukuh Paruk akan kembali mati. Sejak awal Srintil
menjadi ronggeng,
ia sering kali melakukan pemberontakan, tetapi perbuatannya pun teredam
oleh hasutan Nyai
Kartareja.
Tahun 1965 di Dukuh Paruk terjadi kegegeran
politik yakni sebuah malapetaka besar yang datang melanda pedukuhan. Suatu masa
yang tidak pernah dimengerti oleh siapa pun di Dukuh Paruk. Pada saat itu Srintil dan
rombongannya mengisi acara di kecamatan Dawuan, saat itulah mulai terjadi masalah
besar dan akhirnya Srintil dipenjarakan atas tuduhan terikat PKI (Partai
Komunis Indonesia). Digambarkan
suasana Dukuh Paruk saat itu sangat mencekam. Banyak
orang terus bersembunyi di dalam rumah, anak-anak pun kehilangan keceriaannya, dan Srintil pun dipenjara entah di mana. Setelah keluar dari
penjara Srintil sering bergumam sendiri dan tertawa sampai terbahak-bahak di dalam kamarnya. Bahkan dia juga
sering merobek bajunya. Sosok Srintil yang dulu sangat dielu-elukan, kini mulai
tersudut. Sudah tidak ada lagi
perhatian dari semua orang yang diberikan kepada
Srintil. Kecuali hanya ada Sakum, nenek Sakarya dan Rasus yang baru pulang
menjalankan tugasnya sebagai tentara diluar jawa, mereka masih bersedia merawat
Srintil. Rasuslah yang tetap
bertahan merawat Srintil dengan membawanya ke rumah sakit tentara.
Secara garis besar cerita dalam novel ini
termasuk karangan fiksi, tetapi dalam novel ini memuat unsur sejarah nyata
tentang PKI dan tradisi Dukuh Paruk. Novel ini menggambarkan suasana pada zaman
kemerdekaan, pemberontakan, hingga zaman awal orde baru, meskipun unsur politik
tersamarkan dengan cerita warga Dukuh Paruk yang buta huruf.
Penulis: Mia Fatmayanti
Editor: Hana Salsa Julia Putri
.jpg)
0 Komentar