(Sampul Novel Entrok)

Judul Buku       : Entrok
Penulis              : Oky Madasari
Penerbit             : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit     : 2010
Halaman            : 282 halaman



www.sinergispress.com - Novel ini memulai kisahnya dengan Sumarni, yang menjadi tokoh sentral dalam cerita. Berlatar tahun 1950-an, Marni lahir dalam kemiskinan. Ia tinggal bersama Simbok yang banting tulang sendiri, ayah Marni yang brengsek pergi meninggalkan istri dan anaknya dengan kondisi melarat. Kehidupan mereka berdua hanya bergantung pada pekerjaan Simbok yang serabutan, Simbok mencari pedagang yang butuh jasanya untuk mengupas singkong di pasar Singget.


Suatu ketika, Marni yang sudah beranjak remaja iri melihat Tinah memiliki entrok. Entrok merupakan beha atau kutang dalam bahasa jawa lawas. Entrok tersebut memberikan penopang dan kebebasan bagi payudara Tinah, memungkinkannya berlari dengan bebas. Tinah adalah anak pakliknya Marni. Pada saat itu entrok adalah benda langka yang jarang dimiliki orang-orang. Tinah pun hanya memiliki satu, hasil upah dari bapaknya yang bekerja sebagai kuli bangunan. Sedangkan, Simbok hanya mengupas singkong dengan upah singkong pula, dari mana Marni bisa dapat upah uang untuk  membeli entrok. 


Marni ikut Simbok mengupas singkong ke pasar Singget, melihat beberapa kuli angkut pasar membawa karung-karung belanjaan pembeli lalu diupahi uang, Marni menjadi iri. Ia tergiur untuk ikut menjadi kuli angkut `agar dapat uang untuk membeli entrok. Perempuan tidak boleh bekerja berat seperti laki-laki, tetapi hanya pekerjaan laki-lakilah yang diberi upah uang saat itu. Karena nekat, Marni ikut menjadi kuli angkut tanpa sepengatuhan Simbok. Menurut Simbok perempuan yang bekerja seperti laki-laki menjadi masalah pantas tidak pantas. Pakemnya perempuan haruslah melakukan pekerjaan ringan, seperti mengupas singkong.


Marni yang keras kepala tetap mencoba menjadi kuli angkut dan ikut mangkal dengan kuli lain di Pasar Singget. Banyak yang menggunakan jasa Marni karena kasihan melihat perempuan nguli. Menurut Marni, malah pekerjaan sebagai kuli angkut lebih ringan dari mengangkat air berliter-liter setiap hari yang ia lakukan bersama Simbok. Hasil dari upah nguli ia belikan sebuah entrok. Entrok polos yang ia beli dari penjual pakaian keliling. Tetapi rasa puas memiliki entrok itu hanya sementara, Marni ingin punya lebih banyak entrok. Entrok yang beragam jenisnya. Dalam konteks ini, entrok menjadi simbol kebebasan, kekuatan, dan kemandirian perempuan. Marni tidak hanya menginginkan entrok sebagai simbol status sosial, tetapi juga sebagai wujud perlawanan terhadap peran dan ekspektasi yang dibentuk oleh masyarakat terhadap perempuan. Melalui perjuangannya, Marni membuktikan bahwa perempuan mampu melebihi batasan-batasan yang diatur oleh norma sosial.


Dari situ mulailah perjalanan Marni menuju kesuksesan materi. Sukses dengan jualan sayur dari pintu ke pintu, ia pun menambah jenis barang dagangannya seperti panci dan ember. Pembeli pun bisa membayar secara kredit, bisa per hari atau per minggu. Sukses dengan panci, bisnis uang dirambahnya. Marni seolah menjadi Bank Singget, pedagang, guru bahkan priyayi mendatanginya memohon dipinjami uang dengan perjanjian pengembalian ditambah bunga. Ia bahkan bisa memberikan pendidikan tinggi kepada anaknya Rahayu. 


Di sekolah Rahayu mendengar dan mendapat pengajaran bahwa ibunya adalah pendosa. Karena Ibunya tidak memuja Tuhan seperti yang diajarkan oleh guru agama Rahayu, melainkan membuat tumpeng, selamatan, menziarahi kuburan dan berdoa di bawah pohon asem. Kepercayaan Marni sedari kecil berdoa kepada leluhurnya, ia menyebutnya Ibu Bapak Bumi.  Semakin lama Rahayu semakin membenci ibunya, ia percaya bahwa ibunya rentenir, menarik uang dari kesusahan warga desa dan pada akhir masa nanti ibunya akan digodok di api neraka.


Entrok menggambarkan konflik antara Marni dan Rahayu melalui sudut pandang kedua tokoh tersebut. Meskipun tidak berfokus pada perang dingin antara ibu dan putrinya, cerita ini secara erat juga mengikat perkembangan politik dan sosial Indonesia pada masa itu. Marni, yang kekayaannya bertambah, sering kali menjadi sasaran penguasa dan hidupnya tak pernah lepas dari intimidasi aparat pemerintah. Tagihan yang konyol terus berdatangan, mengganggu ketenangan Marni, seorang pekerja keras yang buta huruf. Suaminya, Teja, seorang kuli yang tunduk pada aparat, selalu memperburuk keadaan dengan patuh mengikuti permintaan mereka. Di sisi lain, Rahayu, setelah kuliah di Yogyakarta, terlibat dalam konflik politik dengan aparat. Awalnya sebagai aktivis Islam di kampus, ia terlibat langsung dalam memperjuangkan tempat yang dipaksa menjadi waduk raksasa.


Di dalam kisah Marni, pembaca akan terhanyut dalam pemandangan di mana uang berbicara dengan bahasa yang dipahami oleh semua pihak: baik mereka yang berkuasa maupun mereka yang dikuasai. Seolah-olah uang itu sendiri menjadi sebuah dialek yang meluapkan ancaman, intimidasi, sabotase, dan bahkan kematian. Sebagai alat yang dihormati dan dilegalkan oleh para penguasa terhadap mereka yang berada di bawah kendali.


Jika aparat pemerintah menindas Marni karena sumber kekayaannya, hasil dari kerja kerasnya sendiri. Berbeda dengan perlakuan yang diterima Rahayu. Rahayu dianggap berbahaya dan menjadi target pembungkaman karena idealismenya sebagai membela rakyat dari penindasan pemerintah. Tidak hanya mencegah Rahayu menyuarakan kebenaran, bahkan hingga membunuh suaminya, memenjarakannya, dan menyematkan label PKI padanya. Tindakan penistaan yang kejam ini mengikuti pola orde baru yang mengakibatkan kehancuran bagi ibu dan anak tersebut. 


Dengan begitu, Entrok tidak hanya menjadi sebuah novel yang merekam perjalanan sejarah Indonesia yang gelap, tetapi juga menjadi sebuah cermin yang memantulkan kondisi sosial dan politik yang masih relevan hingga saat ini. Kesenjangan antara negara dan rakyatnya, ketidakadilan yang hanya menjadi isu kosong, ketakutan rakyat terhadap penegak hukum, kemiskinan yang melanda dalam berbagai aspek kehidupan, serta media yang dimanfaatkan oleh penguasa sebagai alat untuk mengendalikan dan menutup suara-suara yang berbicara tentang kebenaran. Pada novel ini juga digambarkan bagaimana ketidakadilan akibat budaya patriarki terhadap perempuan. Tidak hanya digambarkan melalui tokoh utama, ketidakadilan terhadap perempuan digambarkan pula melalui tokoh lain dalam novel ini.


Melalui Entrok, Okky Madasari mengingatkan kita akan pentingnya terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran dalam realitas yang kadang-kadang pahit, tetapi tak bisa diabaikan. Novel ini juga memberikan kesadaran bahwa kita harus melihat semua masalah dari banyak prespektif. Novel ini akan meningkatkan kesadaran kita dalam memahami sistem sosial, politik dan budaya kita. 



Penulis: Lulu Fitriani Fadillah

Editor : Hana Salsa Julia Putri