(Ilustrasi dihasilkan Nano Banana - Google Gemini)
www.sinergispress.com - Setiap makhluk menjulukiku sumber kehidupan yang dicipta Tuhan dengan tugas mulia untuk ada dalam setiap detak mereka. Hari-hari kuhidupi mereka dengan senang, tanpa harap mendapat balas budi. Meski tak jarang mereka salah mengerti maksud diriku. Tapi percayalah, tak mungkin kubuat mereka menderita, karena sedari awal, Tuhan tak memberikan rasa benci yang dapat merusak jiwaku.
Ya, walau kini aku merana, terhanyut dalam sedih, tapi tak kuasa aku membenci. Sebab dari sekian banyaknya makhluk yang merasakan dan menjulukiku sumber kehidupan, masih tak mengerti aku kepada makhluk yang bernama "Manusia". Mereka satu-satunya makhluk yang aneh. Keanehan mereka itulah yang membuatku merana.
Lucunya, sebab itu, aku terdorong untuk bertanya sesekali kepada Batu. Jujur saja, sangat besar rasa sungkanku kepada Batu karena selalu merepotkannya. Bayangkan, ketika di sungai, aku mendorongnya ke hilir, lalu menenggelamkanya ke dasar, tak sampai di situ, tak sengaja kubuat hancur—terkikis sedikit demi sedikit dan berakhir melebur bersama diriku. Meski begitu, ia tetap ramah, malah anehnya berterimakasih atas semua yang telah terjadi.
“Justru aku berterimakasih kepadamu. Kau tahu, aku sedang sedih saat ini. Mungkin saja sebentar lagi aku akan punah. Memang makhluk bernama manusia itu sulit dimengerti jalan pikirnya, padahal kita semua berasal dari satu zat yang sama. Mengapa mereka begitu berbeda?”, pertanyaan yang sebelumnya ingin kutanyakan, terdahului oleh Batu.
Perlahan Eceng Gondok membayang di atas kami, segera kutanyakan prihal serupa kepadanya.
“Sungguh, aku pun tak mengerti sama sekali tentang mahkluk itu. Jujur saja, terkadang hatiku juga sakit terhadap tingkah laku mereka. Pernah suatu saat di danau, aku mendengar ocehan mereka bahwa aku hanya pengganggu saja, menghalangi keindahan yang sesungguhnya. Padahal semua yang kulakukan, berdasarkan tugas yang diberikan. Mengapa makhluk bernama manusia itu tak menganggap baik kehadiranku. Sedih hatiku…”
Di tengah obrolan kami, Ikan pun datang—memotong pembicaraan.
“Maaf, aku sedikit menguping obrolan kalian. Aku rasa manusia memang begitu. Bisa jadi memang manusia itu tidak ada baiknya. Bayangkan saja ya, keberadaanku di mata mereka hanyalah sebagai hama. Sekalinya bukan, aku menjadi santapan meraka. Memang ini sudah menjadi fitrah atau tugas yang Gusti sendiri berikan. Tapi ya, jangan ugal-ugalan juga memburuku. Setidaknya pikirin juga lah masa depan kami sebagai salah satu makhluk Gusti. Selain bukan menjadi hama atau makanan, malah mereka memindahkan kami ke benda bening tak tertembus. Dasar manusia! Aku tak mengerti jalan pikiran mereka.”
Keluh kesah mereka membuatku mulai mengerti, barangkali dasarnya manusia sudah begitu adanya. Lagi pula, Tuhan sendiri yang menghendaki manusia berbuat demikian. Tidak… Tidak, tidak…, aku tak bisa berburuk sangka karena diriku bersih dari sifat yang merusak jiwa.
Seketika dari atas langit Mikail terbang dengan kecepatan cahaya, sayapnya mengepakan bayang setengah bumi. Ia menghampiriku, menyampaikan titah Tuhan untuk menurunkan hujan. Di bawah komando Mikail, Matahari berkerjasama denganku sembari memulai percakapan terkagum-kagum akan tugas yang diberikan.
“Kau tahu? Apa yang kita lakukan adalah pekerjaan paling mulia.”
“O ya tentu. Aku adalah sumber kehidupan. Itu sudah menjadi fitrahku sejak awal dicipta,” jawabku percaya diri.
“Hahaha… kau yakin?”
“Loh, aku kira semua makhluk sepakat tentang itu,” jawabku tegas.
“Kau sudah bertanya kepada manusia?”, Matahari menatap wajahku dengan menyebalkan.
Tanyanya membuatku bergeming, meragukan manusia bisa memahami.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” sambung Matahari dengan tawa kecil.
Segala pikiran tentang manusia aku alihkan dengan fokus pada titah Tuhan. Matahari pun membantu melakukan penguapan.
Mikail mengamati pekerjaan kami, aku tahu ia hanya pura-pura tak mendengar obrolan kami barusan. Malaikat memang terlalu lurus untuk ukuran makhluk. Tapi bukan berarti kami berbuat dosa karena membicarakan makhluk lain. Ingat, Tuhan tak menciptakan perasaan yang merusak jiwa di dalam diriku atau diri Matahari.
Sudah seharian kami menjalankan titah. Mikail tak kunjung meminta kami untuk berhenti. Kulihat Matahari sudah mulai bermalas-malasan, cahayanya sudah mulai teredupkan kawanan awan.
“Haduh,” Matahari berbisik kepadaku, “Apa si Mikail ada salahnya juga, mungkin dia ketiduran…”
Terdengar Mikail berdeham.
“Maaf, Bos. Bercanda,” sambung Matahari dengan senyum tak enak.
Tugasku kali ini memang tak seperti biasanya. Sejauh pengalamanku, curah hujan seperti ini tak biasa di zaman sekarang.
“Maaf, Tuan Malaikat. Apa hujan kali ini tidak terlalu berlebihan?”
Mikail membuka kembali gulungan kertas yang dibawanya. Dengan wajah tegas, ia menatap dan membacakan kertas itu.
“Tidak. Semuanya sesuai dengan perintah Tuhan,” ucap Malaikat dengan tatapan datar.
“Tapi, Tuan…”
“Sudahlah kau kerjakan saja tugasmu. Tidak semua sikap kritis itu baik dan membangun, ada saatnya kita patuh sepatuh-patuhnya. Apalagi jika itu menyangkut titah dari Maha Benar, Maha Tahu, dan Maha Bijaksana.”
Aku tak berani bertanya lebih lanjut. Mikail anggap kami sudah memahami, lalu menyilangkan tangannya di dada dengan ekspresi datar. Matanya memberi isyarat kepada kami untuk segera meneruskan titah yang diberinya.
***
Sudah tujuh hari hujan. Sebagian awan hitam pekat mulai bergeser menyelimuti sisi wilayah lain, yang di mana keluarga si Pohon tengah berduka, pula si Tanah mengaduh kesakitan karena tercerabut nadinya (akar)—akan makin mengaduh tak kuasa, kalau saja, hujan terus-menerus deras. Begitu pula, yang terbang, yang bergelantung, yang melata, hingga yang berlari cepat—ketakutan tak karuan, maka dari itu, mereka menentang kepada kami yang mengemban titah ini.
Jujur, berat hatiku melihat mereka tak berdaya untuk kujelaskan tegas bahwa tugas ini tak bisa ditentang karena Mikail diperintah langsung oleh yang Maha Tahu. Sebab kegelisahanku tak lagi terbendung. Aku beranikan diri untuk menghampiri Mikail demi menyampaikan harapan mereka.
“Mohon maaf, Tuan Malaikat. Banyak makhluk mengeluhkan tugas besar kali ini. Tentu beberapa tahun lalu, hal ini tidak akan menjadi masalah bagi mereka. Tetapi saat ini, mereka semua merasa tidak akan sanggup menahan curah diriku…”
“Tunggu,” Mikail memotong ucapanku, “kau bilang banyak makhluk yang tinggal di bawah merasa keberatan?”
“Benar, Tuan Malaikat. Benar begitu adanya,” penuh keyakinan kutatap tegas mata Mikail. Wajah Mikail tetap datar menatapku.
“Bagaimana dengan manusia?”
Sumpah, tak ada habisnya dengan manusia. Lagi-lagi mereka! Apa gunanya bertanya pendapat kepada makhluk yang tak peduli pada situasi seperti ini? Tuhan sendiri pernah berfirman bahwa manusia adalah makhluk yang dibekali akal paling sempurna. Namun, justru akal itulah yang membuat aku dan teman-temanku sulit memahami jalan pikiran mereka. Tetapi, Aku mulai sedikit mengerti setelah menyadari kembali anugerah luar biasa yang Tuhan berikan kepada manusia. Tak heran jika mereka sering memisahkan diri dari alam, lalu memandang makhluk lain seperti kami hanya sebagai pajangan belaka atau sekadar alat untuk kelangsungan hidupnya. Padahal, kami jauh lebih dari itu. Aku adalah nyawanya, si Pohon adalah napasnya, dan si Ikan adalah sumber nutrisinya. Sungguh ironis, bukan? Makhluk yang paling berakal justru sering lupa bahwa kehidupannya tak terpisahkan dari kami semua.
“Tapi Tuan Malaikat, bukanya manusia tak memerlukan pikiran kami? Tuhan kita sendiri yang menyebut bahwa manusia adalah mahluk paling mulia. Mahluk dengan tugas sebagai pemimpin kami. Rasanya agak kurang pantas, jika mahluk sepertiku mengingatkan mereka—sebagaimana kalau saya berbuat lancang kepada Tuan.”
“Tanpa kau sadari, kau sudah menemukan jawabannya,” Mikail tersenyum tipis, “tapi itu asumsiku saja. Percayalah kepada yang memberi perintah, kepada yang Maha Tahu.”
Kemudian Mikail kembali menyilangkan tangan di dada, wajahnya kembali datar.
“Teruskan tugasmu!”
Sesal tanpa membawa kabar baik, aku menghampiri teman-teman yang sudah cemas menunggu di bawah. Ketika aku sampai dan menceritakan semua perkataan Mikail, mereka menghela nafas panjang, berserah. Tetapi, tak lama, Mikail datang kembali.
“AIR. SUDAH SAATNYA,” dengan tergesa-gesa aku menghadap dia.
“Sudah saatnya apa, Tuan Mikail?”
“BAH,” pinta Mikail tegas.
“Tapi Tuan…”
“Turunlah. Ini perintah.”
Kujatuhkan diriku dengan perasaan penuh duka. Tampak semua makhluk menatapku dengan cahaya kepasrahan. Tidak, tidak semua makhluk, hanya manusia yang masih asik dengan dunianya sendiri. Menikmati hasil rampasan dari mereka yang tumbuh ditebas, yang subur dijejali.
Tak ada jalan lain. Tak tertahankan, aku menghantam tanah hingga jatuh menerjang semua yang ada di bawah. Berangsur keruh dengan gelondongan pohon yang menghantam pemukiman manusia. Meraka berteriak ampunan.
Hanyut sudah. Namun manusia tak tahu, bahwa yang menghanyutkan mereka sebagian besar adalah air mata atas duka kami. Tugas ini, begini adanya, aku turuti bukan atas dasar perlakuan manusia, semua di luar kuasaku sebagai makhluk ciptaan-Nya yang suci dari laku merusak jiwa.
Penulis: Sidiq Nugraha
Editor: Dea Cahaya Ramdona

0 Komentar