![]() |
(Ilustrasi dihasilkan Nano Banana - Google Gemini) |
www.sinergispress.com - Benang-benang halus merambat dari setiap pori di kepala yang menjadikannya waktu akan masa. Menapaki batu demi batu ketabahan, agar bisa saling mengerti dan percaya akan janji sehidup semati. Menjalin keinginan yang besar untuk menjadikannya satu tujuan demi sebuah ikatan yang dinamakan cinta. Meski banyaknya badai yang menerpa prahara hubungan ini, kepercayaanlah yang membuat kita bisa terus bersama hingga salah satu dari kita di panggil oleh Sang Pencipta.
***
Aku akui bahwa aku adalah manusia yang brengsek! Hingga di hari terakhirmu aku bahkan tidak mengingat bagaimana model rambut yang dulu sangat engkau sukai–selain topi rajut yang selalu engkau kenakan untuk menutupi kepala yang sudah tidak ada sehelai rambut pun untuk menyempurnakan dirimu.
Aku tahu bahwa kesempurnaan itu hanyalah milik Tuhan belaka. Tetapi tidak ada salahnya jika aku mengagumi kecantikanmu atas ciptaan–Nya. Hingga di akhir hayatmu, engkau masih tetap aku puji sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling cantik. Aku masih menyimpan puisi yang aku buat untuk dirimu.
Martinah…
Engkau sungguh sangat cantik
Tak salah semua orang tertarik
Sungguh…
Luasnya ketabahan hatimu
Menyadarkanku tentang hatiku
Yang selalu bermain-main akan hatimu
Martinah…
Aku tidak bisa menahannya lagi
Kesepian ini
Semakin menggerogoti
Martinah…
Berikan aku petunjuk
Agar aku bisa merangkai bentuk
Memori yang hampir remuk
Martinah…
Puisi itu aku simpan di dalam tumpukan baju dirimu, yang tak kuperbolehkan seorang pun mengusiknya, agar aku bisa tetap menghirup aromamu di sini. Aku hampir gila, Martinah… sejak kepergianmu, aku mengerti akan arti cinta yang sesungguhnya. Aku mengerti kenapa engkau tetap bertahan dengan diriku yang selalu bermain hati denganmu. Sekarang aku mengerti, Martinah… tetapi kenapa engkau tidak mengatakannya kepadaku? Kenapa engkau menyiksaku dengan kesepian ini? Kenapa? Tahukah engkau, Martinah, aku setiap hari selalu melukis parasmu yang cantik itu–paras cantik yang tertimpa cahaya mentari senja di sebuah ladang rumput nan luas. Tetapi aku selalu tidak bisa menyelesaikannya. Ya, karena aku tidak ingat akan bagaimana rambutmu itu menambah keindahan yang terpancar.
Sudah kucoba berkali-kali mengganti model rambut pada lukisanku agar aku bisa menyelesaikannya dengan sempurna. Namun, semua percuma! Semakin aku mencoba untuk mengingat keindahan dirimu yang muncul di ingatanku hanyalah air matamu saat engkau merasa kecewa akan sikap dan perangai burukku yang selalu bermain hati denganmu.
Air matamu telah sering engkau tumpahkan kepada manusia yang brengsek seperti aku. Kenapa, Martinah? Kenapa engkau tidak meninggalkanku saja? Kenapa engkau masih kokoh pendirian untuk tetap membersamaiku? Air matamu bagaikan lahar panas yang meluluhlantahkan semuanya–termasuk diriku.
Aku sudah tidak sanggup lagi. Air mataku sudah kering. Hatiku sakit, tubuhku hancur, dan pikiranku tak karuan. Tuhan… satu pintaku: aku ingin memperbaiki semuanya dari awal, agar aku bisa menikmati setiap detik yang terpancar dari salah satu makhluk–Mu itu, tanpa menyia-nyiakannya lagi. Tuhan… aku mohon…
***
“Sayang… ayo bangun, Sayang! Katanya mau main di padang rumput sana,” ujarnya sembari menunjuk ke arah yang ia inginkan.
“Ayo, Sayang… bagaimana kalau kita balapan? Yang kalah harus gendong yang menang,” tantangku.
“Nggak, ah, kamu kan berat!” Jawabnya kesal.
“Hahaha… nggak, dong, Cantiknya aku… aku hanya bercanda,” sahutku.
“Kalau gitu, aku start duluan. Dah… dasar lambat!” Ejeknya sambil berlari.
Tuhan… jika Engkau berkenan simpankanlah ingatan ini untukku agar aku bisa mengingatnya 1000 tahun lagi.
Penulis: DHaryanto
Editor: Naufal Mukrimi

0 Komentar