www.sinergispress.com - Broken Strings karya Aurelie Moeremans adalah memoar kisah nyata tentang manipulasi emosional, pemaksaan, perundungan, pelecehan seksual, dan kekerasan psikologis yang dialami penulis sejak usia remaja. Buku ini tidak mencoba menjadi bacaan yang nyaman, karena sejak awal memang hadir untuk membuka luka yang selama ini kerap disembunyikan. Kisah yang diceritakan bukan sekadar pengalaman pribadi, melainkan gambaran tentang bagaimana kekerasan bisa tumbuh dalam sebuah hubungan yang dianggap aman.

    Dalam Broken Strings memperlihatkan bahwa kekerasan jarang datang secara langsung, tetapi muncul perlahan melalui perhatian, pujian, dan kedekatan emosional, lalu berkembang menjadi kontrol dan tekanan. Korban dibuat merasa bersalah, takut kehilangan, dan akhirnya bergantung. Kekerasan psikologis terhadap pemaksaan dan pelecehan yang saling bertaut membentuk pola yang sulit dikenali, sekaligus sulit dilepaskan.

    Isu yang diangkat dalam buku ini beririsan kuat dengan maraknya perbincangan tentang child grooming. Pola hubungan yang digambarkan dalam Broken Strings memiliki kemiripan yang jelas dengan kasus-kasus yang ramai diperbincangkan di media sosial, seperti adanya ketimpangan kuasa, pembentukan ketergantungan emosional, serta pembenaran atas nama cinta dan keseriusan. Setelah membaca buku tersebut, tidak sedikit warganet yang menyadari bahwa apa yang selama ini dianggap “hubungan dewasa” ternyata menyimpan praktik manipulasi yang berbahaya.

    Kelebihan buku Broken Strings ini terletak pada keberaniannya membuka pengalaman tanpa banyak penyamaran. Hal ini juga tercermin dari respon pembaca di media sosial seperti TikTok dan X, banyak pembaca menyebut buku ini sebagai “tamparan keras” karena membuat mereka sadar pernah berada di situasi serupa. Beberapa komentar menyebutkan bahwa buku ini terasa jujur dan relevan, terutama bagi mereka yang baru memahami bahwa perhatian berlebihan dan posesif bukanlah bentuk kasih sayang. Buku ini dinilai berhasil memberi bahasa pada luka yang selama ini sulit dijelaskan.

    Namun, respon publik juga menunjukkan sisi lain dari buku ini. Sejumlah pembaca di media sosial mengaku merasa pusing, mual, bahkan harus berhenti membaca karena isi cerita yang terlalu berat. Ada yang menyebut pengalaman membaca Broken Strings terasa melelahkan secara emosional, karena narasinya terus membawa pembaca masuk ke ruang trauma tanpa jeda yang cukup. Bagi sebagian orang, keterusterangan ini justru menjadi beban, terutama bagi pembaca yang memiliki pengalaman serupa.

    Meski begitu, reaksi keras tersebut justru menegaskan posisi Broken Strings sebagai buku yang tidak bermaksud menghibur. Buku ini menolak romantisasi luka dan menegaskan bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kendali atas diri sendiri. Ketika sebuah hubungan dibangun di atas ketakutan, kontrol, dan ketergantungan, yang terjadi bukan kasih, melainkan kekerasan yang dinormalisasi.

    Pada akhirnya, Broken Strings tidak hanya berbicara tentang pengalaman personal penulis, tetapi juga cermin sosial. Buku ini memaksa pembaca untuk lebih kritis membaca hubungan, sekaligus berhenti memaklumi kekerasan yang dibungkus atas nama cinta. Selama kekerasan atas nama cinta masih dianggap wajar, luka yang sama akan terus berulang dan dianggap sebagai hal yang biasa.


Penulis: Syifa Nurfadilah

Editor: Naufal Mukrimi