Tuntutan mahasiswa Uniku saat kuliah daring yang disuarakan oleh BEM. IMAGE/BEM Uniku.

Tanggapan atas tulisan Lieken yang berjudul 'Mahasiswa Terlalu Banyak Mengeluh Ketika Wabah Corona'.

www.sinergispress.com - Saya akan mengawali tulisan ini dengan mengatakan bahwa wabah korona ini merupakan ujian. Tidak, yang saya maksud bukan ujian dari Tuhan, melainkan wabah korona ini adalah soal ujian yang sulit, yang mana segala sistem yang berjalan di lingkungan kita dituntut untuk menyelesaikannya. Seperti seorang murid yang tidak pernah belajar akan kesulitan dalam menjawab soal yang sulit bahkan sama sekali tidak bisa menjawabnya. Begitu pun juga dengan sistem yang tidak baik, akan kesulitan menyelesaikan persoalan korona bahkan tidak bisa menyelesaikannya sama sekali.

Dari caranya menjawab soal kita dapat mengetahui sejauh mana kemampuan seorang murid. Begitu juga, dari caranya mengantisipasi wabah korona ini kita dapat mengetahui sebaik apa sistem yang diterapkan di lingkungan kita.

Kita jadi mengetahui bagaimana carut-marutnya sistem kesehatan negara kita. Kita juga dapat (semakin) mengetahui betapa tidak meratanya perekonomian kita. Begitu juga, betapa tidak siapnya sistem pendidikan kita dalam mengimplementasikan sepenuhnya teknologi informasi. Lebih spesifik lagi, kita dapat melihat betapa tidak matangnya sistem di Uniku.

Ketidakmatangan sistem di Uniku ini membuat mahasiswa bereaksi dengan menyampaikan keluhan-keluhannya, mahasiswa merasa tidak puas dengan dosen yang hanya begitu saja memberikan tugas tanpa menjelaskan materinya, belum lagi dosen memberikan tugas terlalu banyak, mahasiswa menuntut bantuan dana untuk kuota, karena selama ini mereka tetap membayar tetapi tidak menggunakan fasilitas kampus.

Menurut Lieken keluhan mahasiswa itu tidak tepat, karena pihak yang dirugikan dengan adanya wabah ini bukan hanya mahasiswa saja. Dia mencontohkan bagaimana dosen yang tetap berusaha mengajar sembari memikirkan bagaimana caranya agar mahasiswa mengerti. Keluhan mahasiswa menurutnya adalah hasil dari sikap arogansi dan individualis mahasiswa. Daripada mengeluh lebih baik mahasiswa memanfaatkan momen ini untuk hal-hal seperti mengeksplor hobi mereka atau membuat tulisan seperti yang dia lakukan. Menurutnya juga, tugas yang banyak adalah risiko menjadi mahasiswa yang memang dituntut untuk selalu bisa menangani suatu masalah di bawah tekanan.

Saya sepakat dengan pendapat Lieken yang menyatakan bahwa momen ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk melakukan kegiatan seperti mengeksplor hobi atau membuat tulisan. Tetapi, pendapatnya bahwa keluhan mahasiswa itu tidak tepat saya tidak menyetujuinya.

Memang benar, semua pihak dirugikan di sini, dalam arti semua pihak mendapat kerugian, pemerintah, pengusaha, pegawai kantoran, pedagang, petani, buruh, semuanya. Lieken menyatakan bukan saatnya kita bicara siapa yang paling dirugikan, tetapi pada kenyataannya memang ada yang paling dirugikan. Semuanya memang dirugikan tetapi tetap ada yang paling (lebih) dirugikan. Manakah yang paling dirugikan antara buruh yang di-PHK dengan pengusaha yang berkurang keuntungannya? Pengusaha yang berkurang keuntungannya masih bisa memikirkan "besok akan makan dengan apa" tetapi buruh yang di-PHK belum tentu bisa memikirkan hal seperti itu, yang pasti dipikirkannya adalah "besok akan makan atau tidak."

Lalu, siapa yang paling dirugikan dari sistem daring di Uniku yang tidak efektif ini? Jawabannya adalah mahasiswa yang berasal dari kelas ekonomi bawah, yang orang tuanya bermodal nekad untuk menguliahkan anaknya, dan penghasilan orang tuanya semakin menurun karena wabah ini. Kuliah membutuhkan biaya besar, betapa kecewanya dia ketika mendapati kenyataan bahwa dosen hanya memberi tugas yang menumpuk, bahwa biaya besar yang orang tuanya keluarkan hanya untuk itu. Bahkan tanpa memandang dari kelas ekonomi mana mahasiswa tersebut berasal, biaya yang dikeluarkan memang tidak sesuai dengan apa yang mahasiswa dapatkan.

Apa yang dilakukan Lieken dalam argumennya adalah penyamarataan. Seolah-olah semua dosen berusaha untuk menjelaskan materi dan semua mahasiswa selalu mempunyai kelebihan uang untuk membeli kuota. Kalau memang kondisinya seperti itu, memang tidak ada alasan untuk mengeluh, kondisinya memang cukup ideal. Tetapi pada kenyataannya, tidak semua dosen berusaha memberikan materi, fakta bahwa banyak mahasiswa yang mengeluh adalah bukti bahwa banyak dosen yang hanya memberikan tugas saja atau bahkan tidak memberikan keduanya (materi dan tugas). Saya merasakan sendiri, sepanjang masa kuliah daring, hanya satu dosen yang berusaha menjelaskan materi, sisanya hanya memberi materi dan tugas, bahkan ada yang tidak memberi sama sekali.

Karena menyamaratakan itu juga, Lieken berpikir keluhan mahasiswa mengenai pemborosan kuota adalah bentuk arogansi. Padahal tidak semua mahasiswa mempunyai kelebihan uang untuk membeli kuota, ada yang untuk membeli kuota harus mengurangi uang makannya, ada yang ibunya harus bekerja seharian penuh terlebih dahulu, maka adalah hal wajar jika mahasiswa mengeluh mengenai pemborosan kuota. Bahkan, jika mahasiswa tersebut berasal dari keluarga berkecukupan pun, wajar saja jika ia menuntut pemberian dana kuota. Karena bagaimana pun juga uang kuliah yang dibayarkan pada dasarnya adalah untuk menunjang pembelajaran, kuota pada saat ini adalah penunjang pembelajaran, jadi wajar saja ia menuntut pemberian dana kuota.

Keluhan mahasiswa adalah keluhan yang wajar bahkan perlu. Mengapa perlu? Saya rasa Lieken menafsirkan keluhan mahasiswa ini sebagai tindak menyalahkan semata, seperti sepasang kekasih yang saling menyalahkan ketika sedang bertengkar. Keluhan mahasiswa itu bukan semata-mata menyalahkan, tetapi karena mahasiswa merasa ada yang tidak beres dengan sistem pembelajaran daring ini. Mahasiswa merasa (dan itu tepat) bahwa sistem pembelajaran daring yang hanya memberikan tugas adalah keliru, mahasiswa merasa bahwa tugas terlalu banyak alih-alih menambah kemampuan mahasiswa malah membuat mereka terbebani. Keluhan-keluhan itu bukan hanya untuk menyalahkan saja, melainkan suatu usaha pertama untuk perubahan yang lebih baik. Perubahan sistem yang lebih baik ini nantinya yang diuntungkan bukan hanya mahasiswa saja, dosen juga, bahkan nama baik Uniku itu sendiri.

Dengan adanya keluhan dan tuntutan dari mahasiswa, sistem di kita perlahan-lahan menjadi lebih baik. Keluhan mahasiswa jangan diartikan sebagai tindak menyalahkan saja, tetapi di dalamnya terdapat keinginan untuk keadaan yang lebih baik lagi.

Sistem tidak akan lebih baik jika mahasiswa anteng-anteng saja ketika ada yang salah. Pihak lembaga akan merasa baik-baik saja dan meneruskan sistem yang sedang berjalan, yang ada sistem akan tetap dan bahkan semakin buruk. Dengan adanya keluhan dan juga tuntutan mahasiswa, akhirnya sistem walaupun belum ideal tetapi setidaknya menjadi lebih baik, hasilnya bisa kita rasakan semua: mengikuti UTS tanpa persyaratan keuangan dan bantuan dana kuota. (tra/arf)


Penulis: Tri Asep Tumbara
Editor: Arfan Muhammad Nugraha